Presiden SBY Mengaku Puas

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan segera meninggalkan jabatannya, mengatakan dirinya meninggalkan kursi kepresidenan dengan perasaan puas setelah memperkuat demokrasi dan ekonomi selama kekuasaannya.
Bekas jenderal itu akan turun pada Oktober mendatang ketika Joko Widodo, gubernur Jakarta berhaluan reformis yang memenangkan pemilihan presiden Juli lalu, mengambil kendali atas negara kekuatan terbesar Asia Tenggara.
Dalam wawancara dengan harian The Australian, Yudhoyono mengakui masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan, namun ia mengatakan telah mencapai banyak hal.
”Saya meninggalkan jabatan dengan sebuah perasaan puas bahwa saya telah mencoba melakukan yang terbaik untuk melayani bangsa ini, dan bahwa di akhir 10 tahun kekuasaan saya, Indonesia menjadi bangsa yang lebih kuat, demokrasi lebih kuat dan ekonomi lebih kuat,“ kata dia.
Yudhoyono memulai jabatannya ketika bangsa ini sedang menderita akibat meluasnya korupsi, pemberontakan di Aceh dan berbagai aksi pemboman yang dilakukan jaringan Jamaah Islamiyah, ketika ia terpilih sebagai presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat dalam pemilu 2014.
“Kami memiliki banyak tantangan tapi, satu per satu, kami membenahi masalah kami,” kata dia.
”Kami menyelesaikan konflik separatis yang telah berlangsung lama di Aceh. Kami menstabilkan situasi di Papua. Kami berhasil mengatasi krisis tsunami (tahun 2004) dan banyak bencana alam lainnya.
“Kami memerangi korupsi dengan keras, tidak selamanya berhasil. Kami menetralisir dan menghancurkan kelompok-kelompok teroris. Kami mencari kerjasama internasional yang lebih aktif di dunia yang bergolak,“ tambah dia.
Yudhoyono mengatakan Indonesia, di mana setengah dari populasi Muslim hidup dalam kemiskinan, juga melewati krisis keuangan global dan menuntaskan pemilihan umum langsung untuk memilih kepala daerah.
Pertumbuhan ekonomi sehat, dengan rata-rata pertumbuhan 5,9 persen selama periode 2009 hingga 2013, kata dia.
Dan meskipun itu turun menjadi 5,2 persen pada paruh pertama 2014, Indonesia masih mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding banyak negara-negara lain.
“Faktanya, di G20, Indonesia masih merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi nomor dua tertinggi setelah Cina,“ kata dia, menambahkan bahwa dirinya mengharapkan pertumbuhan mencapai 6 persen atau lebih dalam dua tahun.
Presiden mengatakan bahwa meski ia telah mengambil keputusan tidak populer untuk menaikkan harga BBM tahun lalu, dan tahun ini menaikkan tarif listrik dan gas, namun biaya subsidi harus kembali disesuaikan.
“Harapan saya adalah bahwa pemerintahan batu akan memberikan subsidi kepada orang miskin. Kita seharusnya tidak mensubsidi komoditas tapi rakyat yang membutuhkannya: orang miskin,” kata dia.
ab/hp (afp,ap,rtr)

Grafena Material Ajaib Picu Revolusi Industri

  Ilmuwan meyakini, chip berbahan grafena bisa memicu kecepatan prosesor hingga 1.000 Gigahertz.
Kepada material inilah teknologi berharap. Grafena bisa membuat komputer seribu kali lebih cepat atau smartphone, layar sentuh lebih tipis. Ilmuwan kini ingin memproduksi materi paling tipis di dunia itu secara massal
Bukan rahasia lagi jika Grafena dianggap oleh ilmuwan sebagai materi ajaib. Pasalnya bahan semikonduktor yang ditemukan oleh Andre K. Geim dan Kostya Novoselov itu adalah material paling tipis di dunia, tapi juga sangat kuat dan lebih keras ketimbang berlian.
Sejauh ini Grafena terbukti sulit untuk diproduksi secara masal. Berbagai metode yang dikembangkan ilmuwan sering berujung pada dua hal, yakni memproduksi grafena berkualitas tinggi tapi dalam skala kecil, atau membuatnya secara massal dengan risiko kerusakan yang terlampau tinggi.
Namun sebuah tim dari Inggris dan Irlandia melaporkan, mereka berhasil membuat selembar gravena berukuran mikroskopik dengan menggunakan blender. Para ilmuwan mencampurkan grafit, bahan yang dipakai untuk membuat mata pensil, dengan "cairan pengikis".

Mengandalkan Blender Dapur

Hasilnya adalah selembar grafena setebal satu nanometer dan memiliki panjang 100 nanometer. Ilmuwan mengaku, putaran pisau blender memisahkan grafit menjadi grafena tanpa merusak struktur dua dimensinya.
"Kami mengembangkan metode baru produksi lembar grafena," tutur Jonathan Coleman, profesor Fisika di Trinty College Dublin. "Metode ini bisa memproduksi grafena dalam jumlah besar tanpa kerusakan sama sekali."

Tim tersebut menggunakan perlengkapan industri yang disebut juga shear mixers. Namun setelah dicoba, ilmuwan juga berhasil mengulangi metode serupa dengan menggunakan blender dapur. "Di laboraturium kami cuma memproduksi beberapa gram saja, tapi jika diperbesar, kami bisa memproduksi beberapa ton sekaligus," kata Coleman.

Belum lama ini ilmuwan dari Samsung Advanced Institute of Technology (SAIT) mengumumkan temuan serupa. Bekerja sama dengan universitas Sungkyunkwan di Korea Selatan, SAIT mengklaim berhasil mengembangkan metode produksi untuk membuat grafena dalam jumlah besar.

Grafena Picu Demam Emas
Penemuan Grafena sepuluh tahun silam memicu apa yang disebut sebagai "demam emas" oleh para ilmuwan. Sejumlah negara menggelontorkan dana miliaran Dollar untuk penelitian material baru itu. Pelaku bisnis pun tak ingin ketinggalan. Perusahaan yang mensponsori penelitian di Trinty College Dublin misalnya sudah siap untuk mematenkan metode temuan Coleman dan timnya itu.

Menurut Andre Geim, professor bidang Fisika di Universitas Manchester, lantaran sifatnya yang transparan dan sangat kuat, grafena bisa digunakan untuk layar monitor pada komputer dan smartphone. Selain itu grafena juga fleksibel sehingga cocok untuk smartphone generasi baru berlayar cekung.

Produsen semikonduktor juga berharap banyak pada metode produksi masal grafena. Ketika miniaturisasi komponen elektronik dari silikon semakin sulit, grafena bisa dipakai untuk memproduksi mikrochips dengan lebih cepat dan ringan.

Ilmuwan meyakini, chip berbahan grafena bisa memicu kecepatan prosesor hingga 1.000 Gigahertz. Sebaliknya silikon cuma mampu mencatat kecepatan tertinggi pada lima Gigahertz.
rzn/ab (dpa,ap,rtr,science)